Minggu, 16 Januari 2022

BAB MEMULASARA JENAZAH (VERSI RINGKAS)

Terjemah Fathul Qorib

(فصل)

: فيما يتعلق بالميت من غسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه (ويلزم) على طريق فرض الكفاية (في الميت) المسلم غير المحرم والشهيد (أربعة أشياء غسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه) وإن لم يعلم بالميت إلا واحد تعين عليه ما ذكر، وأما الميت الكافر فالصلاة عليه حرام حربياً كان أو ذمياً. ويجوز غسله في الحالين، ويجب تكفين الذمي ودفنه دون الحربي والمرتد، وأما المحرم إذا كفن فلا يستر رأسه، ولا وجه المحرمة وأما الشهيد فلا يصلى عليه كما ذكره المصنف بقوله (واثنان لا يغسلان ولا يصلى عليهما)

أحدهما (الشهيد في معركة المشركين) وهو من مات في قتال الكفار بسببه سواء قتله كافر مطلقاً أو مسلم خطأ، أو عاد سلاحه إليه أو سقط عن دابته أو نحو ذلك، فإن مات بعد انقضاء القتال بجراحة فيه يقطع بموته منها، فغير شهيد في الأظهر وكذا لو مات في قتال البغاة أو مات في القتال لا بسبب القتال

(و) الثاني (السقط الذي لم يستهل) أي لم يرفع صوته (صارخاً) فإن استهل صارخاً أو بكى فحكمه كالكبير، والسقط بتثليث السين الولد النازل قبل تمامه مأخوذ من السقوط (ويغسل الميت وتراً) ثلاثاً أو خمساً أو أكثر من ذلك (ويكون في أول غسله سدر) أي يسن أن يستعين الغاسل في الغسلة الأولى من غسلات الميت بسدر أو خطمي، (و) يكون (في آخره) أي آخر غسل الميت غير المحرم (شيء) قليل (من كافور) بحيث لا يغير الماء. واعلم أن أقل غسل الميت تعميم بدنه بالماء مرة واحدة، وأما أكمله فمذكور في المبسوطات

(ويكفن) الميت ذكراً كان أو أنثى بالغاً كان أو لا (في ثلاثة أثواب بيض) وتكون كلها لفائف متساوية طولاً وعرضاً تأخذ كل واحدة منها جميع البدن (ليس فيها قميص ولا عمامة) وإن كفن الذكر في خمسة فهي الثلاثة المذكورة وقميص وعمامة، أو المرأة في خمسة فهي إزار وخمار وقميص ولفافتان، وأقل الكفن ثوب واحد يستر عورة الميت على الأصح في الروضة وشرح المهذب، ويختلف بذكورة الميت وأنوثته، ويكون الكفن من جنس ما يلبسه الشخص في حياته


Jenis Mayat (Mayit)

(Fasal) menjelaskan hal-hal yang terkait dengan orang yang meninggal dunia, dari memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkannya.

Di dalam mayat orang Islam yang tidak melaksanakan ihram dan bukan yang mati syahid, Wajib fardlu kifayah untuk melakukan empat perkara, yaitu memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkannya.

Jika mayat tidak diketahui kecuali oleh satu orang, maka semua hal yang telah disebutkan di atas menjadi fardlu ‘ain padanya.

Adapun mayat orang kafir, maka hukumnya haram untuk mensholatinya, baik kafir harbi atau dzimmi. Namun kedua macam orang kafir ini boleh dimandikan

Wajib mengkafani dan mengubur mayat kafir dzimmi, tidak kafir harbi dan orang murtad.

Adapun mayat orang yang sedang melaksanakan ihram, ketika di kafani, maka kepalanya tidak ditutup, begitu juga wajah mayat wanita yang melaksanakan ihram.

Orang Mati Syahid

Adapun mayat orang yang mati syahid, maka tidak disholati sebagaimana yang dijelaskan oleh mushannif dengan perkataannya,

Ada dua mayat yang tidak dimandikan dan tidak disholati.

Salah satunya orang mati syahid di dalam pertempuran melawan kaum musyrik.

Dia adalah orang yang gugur di dalam pertempuran melawan orang-orang kafir sebab pertempuran tersebut.

Baik ia dibunuh oleh orang kafir secara mutlak, oleh orang Islam karena keliru, senjatanya mengenai pada dirinya sendiri, jatuh dari kendaraan, atau sesamanya.

Jika ada seseorang meninggal dunia setelah pertempuran selesai sebab luka-luka saat bertempur yang di pastikan akan menyebabkan ia meninggal dunia, maka ia bukan orang mati syahid menurut pendapat al adhhar.

Begitu juga -bukan orang mati syahid- seandainya seseorang meninggal dunia saat bertempur melawan bughah (pemberontak), atau meninggal di pertempuran melawan orang kafir namun bukan disebabkan pertempuran tersebut.

Bayi Keguguran

Yang kedua adalah siqth (bayi keguguran) yang tidak mengeluarkan suara keras saat dilahirkan.

Jika bayi tersebut sempat mengeluarkan suara atau menangis, maka hukumnya seperti mayat dewasa.

Siqth dengan huruf sin yang bisa dibaca tiga wajah, adalah bayi yang terlahir sebelum sempurna bentuknya. Lafadz “siqth” di ambil dari lafadz “as suquth” yang berarti gugur.

Memandikan Mayat

Seorang mayat dimandikan sebanyak hitungan ganjil, tiga, lima atau lebih dari itu.

Di awal basuhannya diberi daun bidara, maksudnya disunnahkan bagi orang yang memandikan untuk menggunakan daun bidara atau daun pohon asam dibasuhan pertama dari basuhan-basuhan pada mayat.

Dan di akhir basuhan mayat selain mayat yang sedang melaksanakan ihram, sunnah diberi sedikit kapur barus sekira tidak sampai merubah sifat-sifat air.

Ketahuilah sesungguhnya minimal memandikan mayat adalah meratakan seluruh badannya dengan air sebanyak satu kali.

Adapun memandikan yang paling sempurna, maka dijelaskan di kitab-kitab yang diperluas penjelasannya.

Mengkafani

Mayat laki atau perempuan, baligh ataupun belum, dikafani di dalam tiga lembar kain putih.

Dan semuanya adalah lembaran-lembaran kain yang sama panjang dan lebarnya, masing-masing bisa menutup semua bagian badan.

Dan pada kafan-kafan tersebut tidak disertakan baju kurung dan surban.

Jika mayat laki-laki akan dikafani di dalam lima lembar, maka dengan menggunakan : 

1. tiga lembar kain tersebut, 

2. baju kurung 

3. dan surban.


Atau mayat perempuan dikafani dengan lima lembar, maka dengan menggunakan : 

1. jarik, / Sarung

2. kerudung, 

3. baju kurung 

4. dan dua lembar kain.


Minimal kafan adalah satu lembar kain yang bisa menutup aurat mayat menurut pendapat al ashah di dalam kitab ar Raudlah dan Syarh al Muhadzdzab. Dan ukurannya berbeda-beda sesuai dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan si mayat.

Dan kafan diambilkan dari jenis kain yang biasa digunakan seseorang saat ia masih hidup.

Wallaahu a'lam


PENGURUSAN JENAZAH

MEMANDIKAN JENAZAH

  1. Seorang mayat dimandikan sebanyak hitungan ganjil, tiga, lima atau lebih dari itu.
  2. Di awal basuhannya diberi daun bidara atau daun pohon asam
  3. di akhir basuhan mayat selain mayat yang sedang melaksanakan ihram, sunnah diberi sedikit kapur barus sekira tidak sampai merubah sifat-sifat air.
  4. minimal memandikan mayat adalah meratakan seluruh badannya dengan air sebanyak satu kali.

MENGKAFANKAN JENAZAH

  1. Mayat laki atau perempuan, baligh ataupun belum, dikafani di dalam tiga lembar kain putih yang sama panjang dan lebarnya, masing-masing bisa menutup semua bagian badan dan tidak disertakan baju kurung dan surban.
  2. Jika mayat laki-laki akan dikafani di dalam lima lembar, maka dengan menggunakan tiga lembar kain tersebut, baju kurung dan surban.
  3. mayat perempuan dikafani dengan lima lembar, maka dengan menggunakan jarik, kerudung, baju kurung dan dua lembar kain.
  4. Minimal kafan adalah satu lembar kain yang bisa menutup aurat mayat menurut pendapat al ashah di dalam kitab ar Raudlah dan Syarh al Muhadzdzab.
  5. kafan diambilkan kain yang biasa digunakan seseorang saat ia masih hidup

MENSHOLATKAN JENAZAH

  1. membaca surat Al Fatihah setelah takbir yang pertama.
  2. membaca sholawat untuk baginda Nabi saw setelah takbir kedua. Minimal "اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ"
  3. berdo’a untuk mayat setelah takbir ketiga. minimal  "اللهم اغْفِرْ لَهُ"
  4. Setelah takbir ke empat ia membaca do’a, “ اللهم لَاتَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَاتَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ “ dilanjutkan Salam ditambah,” وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

MENGUBURKAN JENAZAH

  1. Seorang mayat dimakamkan di dalam lahd (luang landak) dengan menghadap kiblat seukuran yang bisa memuat dan menutupi mayat.
  2. Sebelum dimasukkan, mayat diletakkan di sisi belakang / bagian kaki kubur
  3. Orang yang memasukkan mayat dimasukkan dengan cara yang halus tidak kasar ke liang lahd, sunnah mengucapkan, “ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
  4. mayat diletakkan di dalam kubur dengan posisi tidur miring bertumpuh pada lambung mayat sebelah kanan menghadap kiblat setelah kubur tersebut digali sedalam ukuran orang berdiri dan melambaikan tangan.
  5. Seandainya mayat dikubur dengan posisi membelakangi kiblat atau terlentang, maka wajib digali lagi dan di hadapkan ke arah kiblat, selama mayat tersebut belum berubah.
  6. Bentuk kubur tersebut diratakan, tidak dibentuk seperti punuk unta, tidak dibangun dan tidak di tajshish, maksudnya makruh men-tajshish­ kubur dengan gamping.