KH. CHUDLORIE GHOZALIE - MUASSIS PONPES ASPIR KALIWUNGU
Salah satu Karomah KH.
Chudlori Ghozali
Edisi Haul
Ke 21
KH. Chudlori Ghozali adalah pendiri Pondok
Pesantren Ponpes Roudlotut Tholibin Aspir Kaliwungu Kendal Jawa Tengah. Beliau
dikenal sebagai sosok kyai yang sederhana, namun telah mencetak ratusan santri
yang kini mempunyai kiprah penting ditengah umat. Beberapa hari setelah KH.
Chudlori Ghozali wafat di Madinah, KH. Dimyati Rois bertutur dan memberi
persaksian tentang KH. Chudlori Ghozali dihadapan salah seorang santri ASPIR
yang saat itu menjadi Ketua Pondok. "Kang, sampean kuwi untung dadi
santrine Kyai Chudlori, beliau itu Waliyullah". kata kyai yang akrab
dipanggil Mbah Dim.
Santri ketua pondok ASPIR yang sekarang menjadi pengasuh salah satu Pesantren di Tegal itu juga memberikan kesaksianya, bahwa karomah KH. Chudlori Ghozali benar-benar nyata dan dirasakanya sekalipun sang guru sudah tiada sejak 20 tahun silam. Sabtu, 24 Mei 2025 yang akan datang adalah Peringatan Haul beliau yang ke 21.
قدس اللّه سرّه ونوَّر ضريحه، آمين
Cerita ini bermula setelah kang santri
beberapa kali ditemui oleh gurunya dalam mimpi yang sama. Dalam mimpinya itu,
sang guru menyuruh santrinya tersebut untuk sowan kepada beliau dan mengajak
teman-teman santri yang lain. "Kang, aku mbok ditiliki, konco-koncomu
dijak". Kurang lebih dawuh sang guru dalam mimpi. Awalnya kang santri merasa
bingung, ia terus berpikir bagaimana caranya pergi sowan ke makam gurunya,
sementara makamnya berada ditempat yang jauh, yaitu di Pemakaman Baqi Madinah,
disisi lain kondisi ekonomi juga belum mencukupi.
Perjalanan ke tanah Haram memang
membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun kang santri sangat yakin, bahwa
mengikuti dawuh guru adalah suatu kemuliaan dan memenuhi panggilanya adalah
kewajiban yang harus ditunaikan. Berkat keyakinanya itu, beberapa waktu setelah
kejadian mimpi, tidak lama kemudian Allah SWT memberikan rizki dan kesempatan
kepada kang santri untuk pegi menjalankan ibadah umroh.
Selain ibadah umroh dan ziaroh ke makam Rasulullah, sowan kepada gurunya adalah prioritas bagi kang santri. Setelah berada di Madinah, tepatnya diarea pemakaman Baqi', kang santri merasa kebingungan mencari makam gurunya. Semua makam disana sama, hampir tidak bisa dibedakan, sebab tidak ada tanda-tanda khusus. Dan jika pun ditemukan makam gurunya, pasti tidak akan mudah duduk berlama-lama disekitarnya, kecuali harus siap dipukul dan diusir oleh petugas keamanan.
Tetapi kang
santri memang sudah sangat yakin dengan dawuh gurunya. Sambil memejamkan mata,
ia mulai membaca Hadroh (membaca fatihah untuk gurunya) sambil berkata dalam
hati : "Abah kyai, jika engkau benar-benar waliyullah seperti yang
dikatakan Abah Dim, tolong tuntun saya kepadamu". (terdengar su'ul adab.
"Tapi ini darurat") katanya memberi alasan. Kang santri kemudian
berjalan menelusuri pemakaman Baqi', tidak lama ia berhenti di depan sebuah
makam yang diyakini sebagai makam gurunya. Ia lalu memberanikan diri duduk
disamping makam tersebut. Disekitarnya terlihat petugas keamanan dengan tongkat
ditangan dan wajah yang sangar, namun kang santri tetap tenang dan kalem, ia
sama sekali tidak mempedulikanya.
Kang santri mulai membaca Al Qur'an, Tahlil dan Wiridan-wiridan, Do'a-do'a juga dipanjatkan dengan khusuk. Namun ditengah-tengah do'a, kang santri dikejutkan oleh petugas keamanan yang tiba-tiba saja sudah berada disampinya, mereka ikut mengangkat tangan dan mengaminkan do'anya. Kang santri merasa ada yang aneh, ia berfikir kalau kejadian ini diluar kebiasaan. Seharusnya ia diusir seperti orang-orang disekitarnya, namun kenyataanya justru malah sebaliknya. Meski sebelumnya tidak pernah mengetahui persis dimana makam gurunya. Namun dari kejadian ini kang santri semakin yakin, bahwa makam yang dihadapanya itu benar-benar makam yang dicarinya dan yang baru saja dialaminya itu adalah salah satu karomah sang guru mulia, Al Maghfur lahu KH. Chudlori Al Ghozali. Allahu A'lam Tetapi kang santri memang sudah sangat yakin dengan dawuh gurunya. Sambil memejamkan mata, ia mulai membaca Hadroh (membaca fatihah untuk gurunya) sambil berkata dalam hati : "Abah kyai, jika engkau benar-benar waliyullah seperti yang dikatakan Abah Dim, tolong tuntun saya kepadamu". (terdengar su'ul adab. "Tapi ini darurat") katanya memberi alasan. Kang santri kemudian berjalan menelusuri pemakaman Baqi', tidak lama ia berhenti di depan sebuah makam yang diyakini sebagai makam gurunya. Ia lalu memberanikan diri duduk disamping makam tersebut. Disekitarnya terlihat petugas keamanan dengan tongkat ditangan dan wajah yang sangar, namun kang santri tetap tenang dan kalem, ia sama sekali tidak mempedulikanya.
Kang santri mulai membaca Al Qur'an, Tahlil dan Wiridan-wiridan, Do'a-do'a juga dipanjatkan dengan khusuk. Namun ditengah-tengah do'a, kang santri dikejutkan oleh petugas keamanan yang tiba-tiba saja sudah berada disampinya, mereka ikut mengangkat tangan dan mengaminkan do'anya. Kang santri merasa ada yang aneh, ia berfikir kalau kejadian ini diluar kebiasaan. Seharusnya ia diusir seperti orang-orang disekitarnya, namun kenyataanya justru malah sebaliknya. Meski sebelumnya tidak pernah mengetahui persis dimana makam gurunya. Namun dari kejadian ini kang santri semakin yakin, bahwa makam yang dihadapanya itu benar-benar makam yang dicarinya dan yang baru saja dialaminya itu adalah salah satu karomah sang guru mulia, Al Maghfur lahu KH. Chudlori Al Ghozali. Allahu A'lam
Ulama yang telah meninggal secara lahir
sudah “wafat”, namun sejatinya masih “hidup”
Sumber : Kyai M. Tasrifin Salim
(Pengasuh Pondok Pesantren Al-Adalah




