Senin, 26 September 2022

KUMPULAN LINK DOWNLOAD KITAB KUNING PESANTREN

 KUMPULAN LINK DOWNLOAD KITAB KUNING




https://www.alkhoirot.com/download-kitab-kuning/

=================

https://www.galerikitabkuning.com/2016/12/download-kumpulan-koleksi-kitab-ulama-terkenal.html

================

https://iqra.id/kumpulan-kitab-kuning-pondok-pesantren-versi-pdf-235940/


Link download kitab kuning di bawah ini cocok untuk android. Tidak hanya terjemahan, karya-karya yang ada dalam link dari KMNU Library ini juga dilengkapi dengan kitab ke-NU-an, yang membahas amaliyah aswaja hingga politik ala kiai NU. Monggo langsung klik judulnya. Terimakasih pada Duta Islam.

Download PDF E-book ke-NU-an >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCR08tNHNzZlA5Y0k

Download Kitab-Kitab Ulama Nusantara >> https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCeUVvYV9IX1RiOG8

Download Kitab-Kitab Fiqih PDF >> https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCUWhvQnByMVRPSzA

Download PDF Kitab-Kitab Tafsir >> https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCUUM1RjhwdXl3MXM

Download Kitab-Kitab Hadits Format PDF >>https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCOS1tRmNmclR5bE0

Download PDF Kitab-Kitab Nahwu-Shorof >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCZlRBN3VpeFg2YWc

Download PDF Kitab-Kitab Tarikh >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCcjJ6ejdsQ3pYRXM

Download Kitab-Kitab Maulid ar-Rasul >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCTmpjZEpFYUxmWFE

Download Kitab-Kitab Tasawuf PDF >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCdzQyMm5iVWNRdVk

Download PDF Kitab-Kitab Tauhid >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCdERKYW9nUk9HWlE

Download Kitab Nadzoman Salaf >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCSllfY1NNeGtfWlE

Download Kitab-Kitab Karya Imam Ghozali >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCQURIUzY3WDdlcEE

Download Kumpulan Kitab Karya Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki >> https://drive.google.com/drive/u/0/folders/0B49krkb9SjaCbUNqd3hJdHNRUjQ

Sumber DutaIslam


Wallahu A'lam semoga bermanfaat....

Rabu, 20 April 2022

WANITA HAIDL, NIFAS TETAP BISA MENDAPATKAN FADHILAH LAILATUL QODAR

 APAKAH WANITA HAIDL, NIFAS TETAP BISA MENDAPATKAN FADHILAH LAILATUL QODAR, LALU AMALAN APAKAH YANG DAPAT MEREKA LAKUKAN PADA LAILATUL QODAR ???


APAKAH WANITA HAIDL, NIFAS TETAP BISA MENDAPATKAN FADHILAH LAILATUL QODAR, LALU AMALAN APAKAH YANG DAPAT MEREKA LAKUKAN PADA LAILATUL QODAR ???

 

1.       WANITA HAIDL, NIFAS BAHKAN ORANGG YAN TIDURPUN TETAP BISA MENDAPATKAN FADHILAH LAILATUL QODAR

 Juwaibir bin Said Al-Balkhi menanyakan hal tersebut kepada Adh-Dhahhak. Termasuk juga wanita yang sedang nifas, bahkan orang yang tidur.

Menurut Adh-Dhahhak, mereka semua bisa mendapatkan lailul qadar.

Karena setiap orang yang Allah SWT terima amalnya, maka Allah SWT akan memberinya bagian dari lailatul qadar.

 قَالَ جُوَيْبِرٌ : قُلْتُ لِلضَّحَّاكِ : أَرَأَيْتَ النُّفَسَاءَ وَ الْحَائِضَ وَ الْمُسَافِرَ وَ النَّائِمَ لَهُمْ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ نَصِيبٌ ؟ قَالَ : نَعَمْ كُلُّ مَنْ تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَهُ سَيُعْطِيهِ نَصِيبَهُ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya, “Jubair berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Adh-Dhahhak, bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang sedang nifas, haid, orang yang bepergian (musafir), dan orang tidur, apakah mereka bisa memperoleh bagian dari Lailaltul Qadar? Jawabnya, ya, mereka masih bisa memperoleh bagian. Setiap orang yang Allah SWT menerima amalnya maka Allah SWT akan memberikan bagiannya dari Lailatul Qadar,’”

(Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha`iful Ma’arif fima Limawasimil ‘Am minal Wazha`if, halaman 264).

 Pandangan Adh-Dhahhak ini jelas menunjukkan bahwa wanita yang sedang haid sekalipun masih bisa memperoleh lailatul qadar.

 

2.       LALU AMALAN APAKAH YANG DAPAT MEREKA LAKUKAN PADA LAILATUL QODAR ???

 Syekh Nawawi Banten dalam kitab Nihayatuz Zain mengenai tingkatan menghidupkan lailatul qadar. Menurut Syekh Nawawi, setidaknya ada tingkatan dalam menghidupkan atau mengisi lailatul qadar, dari tingkat yang tertinggi sampai yang terendah.

a)      Pertama, menghidupkan lailatul qadar dengan memperbanyak shalat. Ini adalah tingkatan tertinggi.

b)      Kedua, menghidupkan sebagian besar lailaul qadar dengan memperbanyak zikir. Ini adalah tingkatan yang sedang.

c)       Ketiga, tingkat terendah atau minimalis adalah dengan melakukan shalat Isya dan Subuh berjamaah.

 وَمَرَاتِبُ إِحْيَائِهَا ثَلَاثَةٌ عُلْيَا وَهِيَ إِحْيَاءُ لَيْلَتِهَا بِالصَّلَاةِ وَوُسْطَى وَهِيَ إِحَيَاءُ مُعْظَمِهَا بِالذِّكْرِ وَدُنْيَا وَهِيَ أَنْ يُصَلِّيَ الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ وَالصُّبْحِ فِي جَمَاعَةٍ

Artinya, “Tingkatan menghidupkan lailatul qadar ada tiga, Yang tertinggi adalah menghidupkan lailatul qadar dengan shalat, Sedang tingkatan yang sedang adalah menghidupkan lailatul qadar dengan zikir, Tingkatan terendah adalah menjalankan shalat Isya dan Subuh berjamaah,”

(Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, Beirut, Darul Fikr, halaman 198).

Dari ketiga tingkatan yang kemukakan Syekh Nawawi Banten ini,

maka yang paling memungkinkan dilakukan wanita yang sedang haid untuk mengisi lailatul qadar sehingga ia bisa memperolah berjibun dan berlimpah pahala adalah tingkatan yang kedua, yaitu mengisi lailatul qadar dengan memperbanyak zikir, berdoa, dan beristighar.

Sebab, tingkatan pertama dan ketiga tidak mungkin bisa diambil oleh wanita yang sedang haid. Lebih lanjut Syekh Nawawi Banten menegaskan bahwa amal kebajikan atau ibadah yang dilakukan pada lailatul qadar lebih baik daripada amal kebajikan yang dilakukan selama seribu bulan. Bahkan menurut pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan atau mu’tamad, pelaku kebajikan yang dilakukan pada lailatul qadar akan memperoleh keutamaan lailatul qadar meskipun ia tidak bisa mengetahui atau melihat keajaiban lailatul qadar, kendatipun kondisi orang yang mengetahuinya itu tentu lebih sempurna. Demikian sebagaimana dikemukakan Syekh Nawawi Banten.

 وَالْعَمَلُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ فِي أَلْفِ شَهْرٍ وَيَنَالُ الْعَامِلُ فَضْلَهَا وَإْنْ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَيْهَا عَلَى الْمُعْتَمَدِ لَكِنْ حَالُ مَنِ اطَّلَعَ عَلَيْهَا أَكْمَلُ

Artinya, “Amal kebajikan atau ibadah yang dilakukan pada lailatul qadar itu lebih baik daripada amal kebajikan yang dilakukan selama seribu bulan. Dan menurut pendapat yang mu’tamad pelakunya akan mendapatkan keutamaan lailatul qadar, meskipun ia tidak mengetahui atau melihat keajaiban lailatul qadar. Kendatipun keadaan orang yang mengetahuinya itu tentu lebih sempurna,”

(Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, halaman 198).




Minggu, 10 April 2022

 

 


ZAKAT FITRAH

ZAKAT fitrah memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Zakat fitrah mengandung banyak hikmah dari segi waktu pelaksanaannya, materi zakatnya, orang yang terkena kewajiban, dan mereka yang berhak menerimanya.

Muhammad bin Qasim Al-Ghazi dalam Fathul Qarib menjelaskan, ada tiga kondisi yang membuat orang wajib membayar zakat .

Pertama, beragama Islam.

Kedua, menjumpai waktu wajibnya zakat , yakni akhir bagian dari Ramadhan dan awal bagian dari Syawal. Orang yang meninggal sebelum masuk 1 Syawal tak wajib zakat fitrah, begitu pula bayi yang lahir setelah habis bulan Ramadhan.

Ketiga, memiliki makanan pokok yang melebihi dari kebutuhannya dan keluarganya pada saat hari raya atau malamnya. Meski wajib mengeluarkan zakat , tak semua wajib menanggung sendiri beban kewajiban itu. Si A yang bertanggung jawab atas nafkah si B, wajib mengeluarkan zakat untuk si B. Misalnya, seorang ayah wajib menanggung zakat fitrah anak-anak yang menjadi tanggungan nafkahnya. Ibnu Abbas RA meriwayatkan hadis perihal zakat fitrah terutama berkenaan dengan hikmah dan batas waktu pembayarannya.

 عن ابن عباس: فرض رسول الله صلّى الله عليه وسلم زكاة الفطر طُهْرةً للصائم من اللغو والرَّفَث، وطُعْمةً للمساكين، فمَنْ أدَّاها قبل الصلاة فهي زكاةٌ مقبولةٌ، ومَنْ أدَّاها بعد الصلاة فهي صدقةٌ من الصَّدَقات رواه أبو داود وابن ماجة وصححه الحاكم

Artinya, “Dari sahabat Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan keji, dan sebagai sarana memberikan makanan bagi orang miskin. Siapa saja yang membayarnya sebelum shalat Id, maka ia adalah zakat yang diterima. Tetapi siapa saja yang membayarnya setelah shalat Id, maka ia terhidup sedekah sunnah biasa,” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Hadis ini sahih menurut Imam Al-Hakim. Dari hadis ini, para ulama menyimpulkan bahwa zakat fitrah merupakan salah satu kebaikan yang dapat menghapus kesalahan dan dosa orang yang menjalankannya sebagaimana keterangan Syaikh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syaikh Alawi Abbas Al-Maliki atas hadits di atas:

 زكاة الفطر حسنة من الحسنات تكفر السيئات قال تعالى إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ. وإخراج زكاة الفطر قبل الصلاة أفضل. والحكمة في ذلك أن لا يشتغل الفقير بالسؤال عن الصلاة

Artinya, “ Zakat fitrah merupakan salah satu bentuk kebaikan yang dapat menghapus dosa. Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 114, ‘Sungguh, kebaikan itu dapat menghilangkan keburukan.’ Pembayaran zakat fitrah sebelum shalat Id lebih utama. Hikmah di balik itu bertujuan agar orang fakir yang menerimanya tidak melalaikan shalat Id karena sibuk mengemis untuk mencukupi kebutuhannya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 253).

Dari hadis ini juga, pandangan mazhab Syafi’i, membagi pembayaran zakat fitrah ke dalam lima waktu:

Pertama, waktu mubah, yaitu sejak awal hingga akhir Ramadhan. Tidak boleh membayar zakat sebelum masuk bulan Ramadhan.

Kedua, waktu wajib, yaitu waktu akhir Ramadhan dan awal Syawwal. Dalam hal ini, kewajiban bayar zakat fitrah berlaku bagi orang yang mengalami hidup pada sebagian waktu Ramadhan dan sebagian waktu Syawwal meski sejenak.  

Ketiga waktu sunnah, yaitu sebelum salat Id berlangsung. Bisa dikatakan, waktu ini berlangsung sejak malam takbiran hingga pagi sebelum shalat Idul Fitri.

Keempat, waktu makruh, yaitu setelah salat Idul Fitri hingga tanggal 1 Syawwal berakhir, yaitu maghrib hari raya Idul Fitri.

Kelima, waktu haram, yaitu setelah tanggal 1 Syawwal berakhir.

 ووقت حرمة وهو ما بعد يوم العيد فإنه يحرم تأخيرها عنه وتكون قضاء يجب على الفور إن كان التأخير بلا عذر وإلا فعلى التراخي

Artinya, “Waktu haram pembayaran zakat fitrah adalah waktu setelah hari raya Id karena sungguh haram memunda pembayaran zakat fitrah. Status pembayaran setelah itu adalah qadha, bukan tunai yang wajib segera dibayarkan jika ia tertunda tanpa uzur. Tetapi jika penundaan pembayaran zakat fitrah karena uzur, pembayaran qadha zakat fitrahnya boleh ditunda atau ditangguhkan,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Maarif: tanpa tahun], halaman 176).

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa batas akhir pembayaran zakat fitrah adalah waktu maghrib pada 1 Syawwal, atau maghrib hari raya Idul Fitri.

Pembayaran zakat fitrah setelah itu dianggap sebagai pembayaran qadha zakat yang harus segera dilakukan bila penundaan pembayarannya di waktu yang ditentukan tanpa uzur.

Percepatan Percepatan pembayaran zakat fitrah sejak awal bulan Ramadhan secara normatif fiqih dibolehkan atau dianggap sah.

Pembayaran zakat fitrah dipercepat bukan karena mendahului waktu pembayaran yang semestinya, tetapi karena memang sudah memasuki waktu mubah pembayarannya.

 ويجوز إخراجها في أول رمضان

Artinya, “ Zakat fitrah boleh dibayar pada awal bulan Ramadhan,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarh Ibnil Qasim, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1999 M/1420 H] juz I, halaman 534).

Percepatan pembayaran zakat ini menjadi keniscayaan di tengah kesulitan ekonomi sebagai dampak dari kebijakan dalam penanganan Covid-19. (Baca juga: Mempercepat Membayar Zakat Fitrah, Bolehkah? ) Percepatan pembayaran zakat fitrah ini diharapkan dapat membantu untuk mengurangi dampak sosial-ekonomi masyarakat. (Baca juga: Zakat Solusi di Tengah Pandemi Corona )

Waktu kebolehan pembayaran zakat ini ditarik dari analogi pada khutbah Rasulullah pada dua hari sebelum hari raya Idul Fitri yang meminta masyarakat untuk membayar zakat fitrah. Para sahabat kemudian membayarkan zakatnya satu dan dua hari sebelum hari raya Idul Fitri sebagaimana riwayat hadits berikut ini:

 وكان ابن عمر رضي الله عنهما يعطيها الذين يقبلونها وكانوا يعطون قبل الفطر بيوم أو يومين

Artinya, “Sahabat Ibnu Umar RA memberikan zakat fitrah kepada mereka yang berhak menerimanya. Mereka (para sahabat) membayarkan zakat fitrah pada satu atau dua hari sebelum Syawwal,” (HR Bukhari). Yang Berhak Menerima Zakat Dalam surat At-Taubah, Allah berfirman,

 إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ (التوبة:

“Sesungguhnya, zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.” (Qs. At-Taubah:60)

Ayat di atas menerangkan tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat . Jika kata “ zakat ” terdapat dalam Al-Qur'an secara mutlak, artinya adalah ‘ zakat yang wajib’. Oleh sebab itu, ayat ini menjadi dalil yang menguraikan golongan-golongan yang berhak mendapat zakat harta, zakat binatang, zakat tanaman, dan sebagainya.

Meskipun demikian, apakah ayat ini juga berlaku untuk zakat fitri, sehingga delapan orang yang disebutkan dalam ayat di atas berhak untuk mendapatkan zakat fitri? Dalam hal ini, ulama berselisih pendapat.

Pertama, zakat fitri boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan firman Allah pada surat At-Taubah ayat 60 di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan zakat fitri dengan “zakat”, dan hukumnya wajib untuk ditunaikan. Karena itulah, zakat fitri berstatus sebagaimana zakat-zakat lainnya yang boleh diberikan kepada delapan golongan. An-Nawawi mengatakan, “Pendapat yang terkenal dalam mazhab kami (Syafi’iyah) adalah zakat fitri wajib diberikan kepada delapan golongan yang berhak mendapatkan zakat harta.” (Al-Majmu’)

Kedua, zakat fitri tidak boleh diberikan kepada delapan golongan tersebut, selain kepada fakir dan miskin. Ini adalah pendapat Malikiyah, Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim. Dalil pendapat kedua: Perkataan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri … sebagai makanan bagi orang miskin ….” (Hr. Abu Daud; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani) Berkaitan dengan hadis ini, Asy-Syaukani mengatakan, “Dalam hadis ini, terdapat dalil bahwa zakat fitri hanya (boleh) diberikan kepada fakir miskin, bukan 6 golongan penerima zakat lainnya.” (Nailul Authar, 2:7) Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan zakat fitri dan membagikannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Cukupi kebutuhan mereka agar tidak meminta-minta pada hari ini.’” (Hr. Al-Juzajani; dinilai sahih oleh sebagian ulama) Yazid (perawi hadis ini) mengatakan, “Saya menduga (perintah itu) adalah ketika pagi hari di hari raya.” Dalam hadis ini, ditegaskan bahwa fungsi zakat fitri adalah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin ketika hari raya. Sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu kemungkinan tujuan perintah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin di hari raya adalah agar mereka tidak disibukkan dengan memikirkan kebutuhan makanan di hari tersebut, sehingga mereka bisa bergembira bersama kaum muslimin yang lainnya.

Niat Zakat Fitrah Menurut Nahdlatul Ulama (NU) dalam laman resminya, seluruh amal ibadah harus melibatkan niat. Bukan hanya ibadah wajib tapi juga ibadah sunnah. Karena, niat merupakan bagian dari penentu sah atau tidaknya suatu amalan. Tak terkecuali pada pelaksanaan zakat fitrah yang wajib ditunaikan oleh setiap individu Muslim, baik laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak, merdeka, ataupun hamba sahaya. Kembali soal niat. Dalam konteks zakat fitrah, niat lebih dibutuhkan ketimbang ijab-qabul. Sebab, zakat bukanlah praktik transaksi (akad), selayak jual beli atau sewa-menyewa. Zakat adalah pemberian searah dari orang yang wajib kepada orang yang berhak. Tak ada pula syarat si penerima memberi suatu manfaat kepada si pemberi atas dasar apa yang diterima itu. Karena itu, niat dalam zakat fitrah adalah wajib, sementara ijab-qabul tidak. Niat adalah i'tikad tanpa ragu untuk melaksanakan sebuah perbuatan. Meski niat adalah urusan hati, melafalkannya (talaffudh) dianjurkan sebab akan membantu seseorang untuk menegaskan niat tersebut. Talaffudh berguna dalam memantapkan i'tikad karena niat terekspresi dalam wujud yang konkret, yaitu bacaan atau lafal. Berikut beberapa lafal niat zakat fitrah dalam bahasa Arab :

˜”*°•.˜”*°• 𝐍𝐈𝐀𝐓 𝐙𝐀𝐊𝐀𝐓 𝐅𝐈𝐓𝐑𝐀𝐇 •°*”˜.•°*”˜

*Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri*

 ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

*Niat Zakat Fitrah untuk Istri*

 ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

*Niat Zakat Fitrah untuk Anak Laki-laki*

 ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku…. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

*Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan*

 ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku…. (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

*Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga*

 ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَنِّيْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُنِيْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

 “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

*Niat Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan*

 ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ (..…) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk… (sebutkan nama spesifik), fardu karena Allah Ta‘âlâ.”

===========================

Saat menerima zakat fitrah, seorang penerima disunnahkan *mendoakan pemberi zakat* dengan doa-doa yang baik. Doa bisa dilafalkan dengan bahasa apa pun. Di antara contoh doa tersebut adalah seperti di bawah ini :

 ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ

“Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu.”

Penggunaan bahasa Arab ketika talaffudh itu dilakukan juga bukanlah keharusan. Seseorang bisa melafalkan niat tersebut dengan bahasa lokal masing-masing karena pada prinsipnya ia hanyalah "sarana bantu" untuk memantapkan niat berzakat fitrah, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain. Yang paling pokok adalah terbesitnya dalah hati bahwa dia benar-benar bersengaja untuk menunaikan zakat fitrah. 

Wallahu'alam.


Kamis, 17 Maret 2022

Minggu, 16 Januari 2022

BAB MEMULASARA JENAZAH (VERSI RINGKAS)

Terjemah Fathul Qorib

(فصل)

: فيما يتعلق بالميت من غسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه (ويلزم) على طريق فرض الكفاية (في الميت) المسلم غير المحرم والشهيد (أربعة أشياء غسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه) وإن لم يعلم بالميت إلا واحد تعين عليه ما ذكر، وأما الميت الكافر فالصلاة عليه حرام حربياً كان أو ذمياً. ويجوز غسله في الحالين، ويجب تكفين الذمي ودفنه دون الحربي والمرتد، وأما المحرم إذا كفن فلا يستر رأسه، ولا وجه المحرمة وأما الشهيد فلا يصلى عليه كما ذكره المصنف بقوله (واثنان لا يغسلان ولا يصلى عليهما)

أحدهما (الشهيد في معركة المشركين) وهو من مات في قتال الكفار بسببه سواء قتله كافر مطلقاً أو مسلم خطأ، أو عاد سلاحه إليه أو سقط عن دابته أو نحو ذلك، فإن مات بعد انقضاء القتال بجراحة فيه يقطع بموته منها، فغير شهيد في الأظهر وكذا لو مات في قتال البغاة أو مات في القتال لا بسبب القتال

(و) الثاني (السقط الذي لم يستهل) أي لم يرفع صوته (صارخاً) فإن استهل صارخاً أو بكى فحكمه كالكبير، والسقط بتثليث السين الولد النازل قبل تمامه مأخوذ من السقوط (ويغسل الميت وتراً) ثلاثاً أو خمساً أو أكثر من ذلك (ويكون في أول غسله سدر) أي يسن أن يستعين الغاسل في الغسلة الأولى من غسلات الميت بسدر أو خطمي، (و) يكون (في آخره) أي آخر غسل الميت غير المحرم (شيء) قليل (من كافور) بحيث لا يغير الماء. واعلم أن أقل غسل الميت تعميم بدنه بالماء مرة واحدة، وأما أكمله فمذكور في المبسوطات

(ويكفن) الميت ذكراً كان أو أنثى بالغاً كان أو لا (في ثلاثة أثواب بيض) وتكون كلها لفائف متساوية طولاً وعرضاً تأخذ كل واحدة منها جميع البدن (ليس فيها قميص ولا عمامة) وإن كفن الذكر في خمسة فهي الثلاثة المذكورة وقميص وعمامة، أو المرأة في خمسة فهي إزار وخمار وقميص ولفافتان، وأقل الكفن ثوب واحد يستر عورة الميت على الأصح في الروضة وشرح المهذب، ويختلف بذكورة الميت وأنوثته، ويكون الكفن من جنس ما يلبسه الشخص في حياته


Jenis Mayat (Mayit)

(Fasal) menjelaskan hal-hal yang terkait dengan orang yang meninggal dunia, dari memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkannya.

Di dalam mayat orang Islam yang tidak melaksanakan ihram dan bukan yang mati syahid, Wajib fardlu kifayah untuk melakukan empat perkara, yaitu memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkannya.

Jika mayat tidak diketahui kecuali oleh satu orang, maka semua hal yang telah disebutkan di atas menjadi fardlu ‘ain padanya.

Adapun mayat orang kafir, maka hukumnya haram untuk mensholatinya, baik kafir harbi atau dzimmi. Namun kedua macam orang kafir ini boleh dimandikan

Wajib mengkafani dan mengubur mayat kafir dzimmi, tidak kafir harbi dan orang murtad.

Adapun mayat orang yang sedang melaksanakan ihram, ketika di kafani, maka kepalanya tidak ditutup, begitu juga wajah mayat wanita yang melaksanakan ihram.

Orang Mati Syahid

Adapun mayat orang yang mati syahid, maka tidak disholati sebagaimana yang dijelaskan oleh mushannif dengan perkataannya,

Ada dua mayat yang tidak dimandikan dan tidak disholati.

Salah satunya orang mati syahid di dalam pertempuran melawan kaum musyrik.

Dia adalah orang yang gugur di dalam pertempuran melawan orang-orang kafir sebab pertempuran tersebut.

Baik ia dibunuh oleh orang kafir secara mutlak, oleh orang Islam karena keliru, senjatanya mengenai pada dirinya sendiri, jatuh dari kendaraan, atau sesamanya.

Jika ada seseorang meninggal dunia setelah pertempuran selesai sebab luka-luka saat bertempur yang di pastikan akan menyebabkan ia meninggal dunia, maka ia bukan orang mati syahid menurut pendapat al adhhar.

Begitu juga -bukan orang mati syahid- seandainya seseorang meninggal dunia saat bertempur melawan bughah (pemberontak), atau meninggal di pertempuran melawan orang kafir namun bukan disebabkan pertempuran tersebut.

Bayi Keguguran

Yang kedua adalah siqth (bayi keguguran) yang tidak mengeluarkan suara keras saat dilahirkan.

Jika bayi tersebut sempat mengeluarkan suara atau menangis, maka hukumnya seperti mayat dewasa.

Siqth dengan huruf sin yang bisa dibaca tiga wajah, adalah bayi yang terlahir sebelum sempurna bentuknya. Lafadz “siqth” di ambil dari lafadz “as suquth” yang berarti gugur.

Memandikan Mayat

Seorang mayat dimandikan sebanyak hitungan ganjil, tiga, lima atau lebih dari itu.

Di awal basuhannya diberi daun bidara, maksudnya disunnahkan bagi orang yang memandikan untuk menggunakan daun bidara atau daun pohon asam dibasuhan pertama dari basuhan-basuhan pada mayat.

Dan di akhir basuhan mayat selain mayat yang sedang melaksanakan ihram, sunnah diberi sedikit kapur barus sekira tidak sampai merubah sifat-sifat air.

Ketahuilah sesungguhnya minimal memandikan mayat adalah meratakan seluruh badannya dengan air sebanyak satu kali.

Adapun memandikan yang paling sempurna, maka dijelaskan di kitab-kitab yang diperluas penjelasannya.

Mengkafani

Mayat laki atau perempuan, baligh ataupun belum, dikafani di dalam tiga lembar kain putih.

Dan semuanya adalah lembaran-lembaran kain yang sama panjang dan lebarnya, masing-masing bisa menutup semua bagian badan.

Dan pada kafan-kafan tersebut tidak disertakan baju kurung dan surban.

Jika mayat laki-laki akan dikafani di dalam lima lembar, maka dengan menggunakan : 

1. tiga lembar kain tersebut, 

2. baju kurung 

3. dan surban.


Atau mayat perempuan dikafani dengan lima lembar, maka dengan menggunakan : 

1. jarik, / Sarung

2. kerudung, 

3. baju kurung 

4. dan dua lembar kain.


Minimal kafan adalah satu lembar kain yang bisa menutup aurat mayat menurut pendapat al ashah di dalam kitab ar Raudlah dan Syarh al Muhadzdzab. Dan ukurannya berbeda-beda sesuai dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan si mayat.

Dan kafan diambilkan dari jenis kain yang biasa digunakan seseorang saat ia masih hidup.

Wallaahu a'lam


PENGURUSAN JENAZAH

MEMANDIKAN JENAZAH

  1. Seorang mayat dimandikan sebanyak hitungan ganjil, tiga, lima atau lebih dari itu.
  2. Di awal basuhannya diberi daun bidara atau daun pohon asam
  3. di akhir basuhan mayat selain mayat yang sedang melaksanakan ihram, sunnah diberi sedikit kapur barus sekira tidak sampai merubah sifat-sifat air.
  4. minimal memandikan mayat adalah meratakan seluruh badannya dengan air sebanyak satu kali.

MENGKAFANKAN JENAZAH

  1. Mayat laki atau perempuan, baligh ataupun belum, dikafani di dalam tiga lembar kain putih yang sama panjang dan lebarnya, masing-masing bisa menutup semua bagian badan dan tidak disertakan baju kurung dan surban.
  2. Jika mayat laki-laki akan dikafani di dalam lima lembar, maka dengan menggunakan tiga lembar kain tersebut, baju kurung dan surban.
  3. mayat perempuan dikafani dengan lima lembar, maka dengan menggunakan jarik, kerudung, baju kurung dan dua lembar kain.
  4. Minimal kafan adalah satu lembar kain yang bisa menutup aurat mayat menurut pendapat al ashah di dalam kitab ar Raudlah dan Syarh al Muhadzdzab.
  5. kafan diambilkan kain yang biasa digunakan seseorang saat ia masih hidup

MENSHOLATKAN JENAZAH

  1. membaca surat Al Fatihah setelah takbir yang pertama.
  2. membaca sholawat untuk baginda Nabi saw setelah takbir kedua. Minimal "اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ"
  3. berdo’a untuk mayat setelah takbir ketiga. minimal  "اللهم اغْفِرْ لَهُ"
  4. Setelah takbir ke empat ia membaca do’a, “ اللهم لَاتَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَاتَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ “ dilanjutkan Salam ditambah,” وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

MENGUBURKAN JENAZAH

  1. Seorang mayat dimakamkan di dalam lahd (luang landak) dengan menghadap kiblat seukuran yang bisa memuat dan menutupi mayat.
  2. Sebelum dimasukkan, mayat diletakkan di sisi belakang / bagian kaki kubur
  3. Orang yang memasukkan mayat dimasukkan dengan cara yang halus tidak kasar ke liang lahd, sunnah mengucapkan, “ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
  4. mayat diletakkan di dalam kubur dengan posisi tidur miring bertumpuh pada lambung mayat sebelah kanan menghadap kiblat setelah kubur tersebut digali sedalam ukuran orang berdiri dan melambaikan tangan.
  5. Seandainya mayat dikubur dengan posisi membelakangi kiblat atau terlentang, maka wajib digali lagi dan di hadapkan ke arah kiblat, selama mayat tersebut belum berubah.
  6. Bentuk kubur tersebut diratakan, tidak dibentuk seperti punuk unta, tidak dibangun dan tidak di tajshish, maksudnya makruh men-tajshish­ kubur dengan gamping.