APAKAH WANITA HAIDL, NIFAS TETAP BISA MENDAPATKAN FADHILAH LAILATUL QODAR, LALU AMALAN APAKAH YANG DAPAT MEREKA LAKUKAN PADA LAILATUL QODAR ???
APAKAH WANITA HAIDL,
NIFAS TETAP BISA MENDAPATKAN FADHILAH LAILATUL QODAR, LALU AMALAN APAKAH YANG DAPAT
MEREKA LAKUKAN PADA LAILATUL QODAR ???
1. WANITA HAIDL, NIFAS BAHKAN ORANGG YAN TIDURPUN TETAP BISA
MENDAPATKAN FADHILAH LAILATUL QODAR
Menurut Adh-Dhahhak, mereka semua bisa mendapatkan lailul
qadar.
Karena setiap orang yang Allah SWT terima amalnya, maka
Allah SWT akan memberinya bagian dari lailatul qadar.
قَالَ جُوَيْبِرٌ : قُلْتُ
لِلضَّحَّاكِ : أَرَأَيْتَ النُّفَسَاءَ وَ الْحَائِضَ وَ الْمُسَافِرَ وَ
النَّائِمَ لَهُمْ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ نَصِيبٌ ؟ قَالَ : نَعَمْ كُلُّ مَنْ
تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَهُ سَيُعْطِيهِ نَصِيبَهُ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya, “Jubair berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada
Adh-Dhahhak, bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang sedang nifas, haid,
orang yang bepergian (musafir), dan orang tidur, apakah mereka bisa memperoleh
bagian dari Lailaltul Qadar? Jawabnya, ya, mereka masih bisa memperoleh bagian.
Setiap orang yang Allah SWT menerima amalnya maka Allah SWT akan memberikan
bagiannya dari Lailatul Qadar,’”
(Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha`iful Ma’arif fima
Limawasimil ‘Am minal Wazha`if, halaman 264).
Pandangan Adh-Dhahhak ini jelas menunjukkan bahwa wanita yang sedang haid sekalipun masih bisa memperoleh lailatul qadar.
2. LALU AMALAN APAKAH YANG DAPAT MEREKA LAKUKAN PADA LAILATUL
QODAR ???
a) Pertama, menghidupkan lailatul qadar dengan memperbanyak shalat.
Ini adalah tingkatan tertinggi.
b) Kedua, menghidupkan sebagian besar lailaul qadar dengan
memperbanyak zikir. Ini adalah tingkatan yang sedang.
c) Ketiga, tingkat terendah atau minimalis adalah dengan melakukan
shalat Isya dan Subuh berjamaah.
وَمَرَاتِبُ إِحْيَائِهَا
ثَلَاثَةٌ عُلْيَا وَهِيَ إِحْيَاءُ لَيْلَتِهَا بِالصَّلَاةِ وَوُسْطَى وَهِيَ
إِحَيَاءُ مُعْظَمِهَا بِالذِّكْرِ وَدُنْيَا وَهِيَ أَنْ يُصَلِّيَ الْعِشَاءَ
فِي جَمَاعَةٍ وَالصُّبْحِ فِي جَمَاعَةٍ
Artinya, “Tingkatan menghidupkan lailatul qadar ada tiga,
Yang tertinggi adalah menghidupkan lailatul qadar dengan shalat, Sedang
tingkatan yang sedang adalah menghidupkan lailatul qadar dengan zikir, Tingkatan
terendah adalah menjalankan shalat Isya dan Subuh berjamaah,”
(Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, Beirut, Darul
Fikr, halaman 198).
Dari ketiga tingkatan yang kemukakan Syekh Nawawi Banten ini,
maka yang paling memungkinkan dilakukan wanita yang
sedang haid untuk mengisi lailatul qadar sehingga ia bisa memperolah berjibun
dan berlimpah pahala adalah tingkatan yang kedua, yaitu mengisi lailatul qadar
dengan memperbanyak zikir, berdoa, dan beristighar.
Sebab, tingkatan pertama dan ketiga tidak mungkin bisa
diambil oleh wanita yang sedang haid. Lebih lanjut Syekh Nawawi Banten
menegaskan bahwa amal kebajikan atau ibadah yang dilakukan pada lailatul qadar
lebih baik daripada amal kebajikan yang dilakukan selama seribu bulan. Bahkan
menurut pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan atau mu’tamad, pelaku kebajikan
yang dilakukan pada lailatul qadar akan memperoleh keutamaan lailatul qadar
meskipun ia tidak bisa mengetahui atau melihat keajaiban lailatul qadar,
kendatipun kondisi orang yang mengetahuinya itu tentu lebih sempurna. Demikian
sebagaimana dikemukakan Syekh Nawawi Banten.
وَالْعَمَلُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ
الْعَمَلِ فِي أَلْفِ شَهْرٍ وَيَنَالُ الْعَامِلُ فَضْلَهَا وَإْنْ لَمْ
يَطَّلِعْ عَلَيْهَا عَلَى الْمُعْتَمَدِ لَكِنْ حَالُ مَنِ اطَّلَعَ عَلَيْهَا
أَكْمَلُ
Artinya, “Amal kebajikan atau ibadah yang dilakukan pada
lailatul qadar itu lebih baik daripada amal kebajikan yang dilakukan selama
seribu bulan. Dan menurut pendapat yang mu’tamad pelakunya akan mendapatkan
keutamaan lailatul qadar, meskipun ia tidak mengetahui atau melihat keajaiban
lailatul qadar. Kendatipun keadaan orang yang mengetahuinya itu tentu lebih
sempurna,”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar