1. POSISI KEPALA JENAZAH
Apabila ada orang meninggal, ketika jenazah mau dibawa ke maqam yang benar kepalanya yang berada di depan (bagian depan keranda). Dalam kitab Busyrol Karim disebutkan :
بشرى الكريم ص ٤٥٧ المكتبة الشاملة
(والإسراع بها) بين المشي المعتاد والخبب إن لم يضره، وإلا تأنّى، ويندب ستر المرأة بشيء كالخيمة ولو من حرير عند (م ر) حتى يجوز تحلية المرأة بالحلي إن رضي الورثة الكاملون، وأن يكون رأس الميت أول النعش ولو لغير القبلة
Fokus :
وأن يكون رأس الميت أول النعش ولو لغير القبلة
Dan sunnahnya kepala mayit berada di awal keranda meskipun menghadap arah selain kiblat.
Adapun cara memasukkannnya ke lubang kubur, kepalanya dimasukkan lebih dahulu dari arah kaki kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadis Nabi saw riwayat Abu Daud dengan sanad sahih dari Abu Ishaq :
عَنْ أَبِي إِسْحَقَ قَالَ أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْ الْقَبْرِ وَقَالَ هَذَا مِنْ السُّنَّةِ [رواه أبو داود]
Artinya: “Dari Abu Ishaq ia berkata: Al-Harits berpesan supaya ia disalatkan oleh Abdullah bin Yazid. Lalu Abdullah mensalatkannya kemudian memasukkan jenazahnya ke dalam kubur dari arah kedua kakinya seraya berkata inilah dari pada sunnah.”
Pada saat mayat atau jenazah dibawa ke kuburan/pemakaman akan dimakamkan dan diiringi dengan baca’an tahlil, yang didahulukan kepala atau kakinya?
Disunahkan mendahulukan kepalanya untuk mengikuti arah jalan, baik itu berjalan ke arah qiblat maupun bukan. sebagaimana diterangkan dalam kitab: Tukhfah al-Mukhtaj Fii Syarhi al-Minhaj:
قَوْلُهُ (اِلَى تَنْكِيْسِ رَأْسِ الْمَيِّتِ) يُؤْخَذُ مِنْهُ اَنَّ السُّـنَّةَ فِىْ وَضْعِ رَأْسِ الْمَيِّتِ فِى حَالِ السَّيْرِ اَنْ يَكُوْنَ اِلَى جِهَّةِ الطَّرِيْقِ سَوَاءٌ اَلْقِبْلَةَ وَغَيْرَهَا بَصْرِىٌّ قَوْلُ الْمَتَنِ. (تحفة المحتاج فى شرح المنهاج فصل فى تكفين الميت ج 4 ص 71)
Perkataan (Sampai membalikkan kepala mayit) diambil dari perkataan tersebut, sesungguhnya sunnah meletakkan kepala mayit ketika berjalan/membawa ke makam sesuai arah jalan yang dilalui, baik menghadap kiblat atau tidak. Seperti dikatakan Sayid Umar Bashry. (Tukhfah al-Mukhtaj Fii Syarhi al-Minhaj juz 4 hal. 71)
Seperti penjelasan Syekh Ibnu Qudamah yang mengutip dari beberapa ulama Madzhab:
ﻭﺻﻔﺔ اﻟﺘﺮﺑﻴﻊ اﻟﻤﺴﻨﻮﻥ ﺃﻥ ﻳﺒﺪﺃ ﻓﻴﻀﻊ ﻗﺎﺋﻤﺔ اﻟﺴﺮﻳﺮ اﻟﻴﺴﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﻔﻪ اﻟﻴﻤﻨﻰ، ﻣﻦ ﻋﻨﺪ ﺭﺃﺱ اﻟﻤﻴﺖ،... ﻭﺑﻬﺬا ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭاﻟﺸﺎﻓﻌﻲ
Bentuk Tarbi' (formasi 4 orang memikul jenazah) yang disunnahkan adalah mengawali keranda / peti mati sebelah kiri diletakkan di pundak sebelah kanan, dari sebelah kepala mayit ... Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Syafi'i (Al-Mughni 2/357)
Juga dijelaskan oleh Syekh Abd Hamid Asy-Syarwani:
اﻟﺴﻨﺔ ﻓﻲ ﻭﺿﻊ ﺭﺃﺱ اﻟﻤﻴﺖ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ اﻟﺴﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺟﻬﺔ اﻟﻄﺮﻳﻖ ﺳﻮاء اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ
Sunah meletakkan kepala mayit saat di jalan untuk mengarah ke arah jalan (depan), baik menghadap kiblat atau tidak (Hawasyai Syarwani Ala Tuhfah 3/110)
Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda
2. TATA KRAMA MENGIRING JENAZAH
Syekh Qalyubi dan Syekh Umairah menjelaskan beberapa tata cara mengiring jenazah sebagai berikut: Sebaiknya pelayat mengiring jenazah dengan berjalan di depan (mendahului) jenazah dengan perkiraan seumpama pelayat ini menoleh ke belakang, jenazahnya masih kelihatan. Artinya, meski di depan, sebaiknya jarak antara pelayat dengan jenazah tidak terlalu jauh sehingga terhalang pandangan antara pengiring dengan jenazah dengan ketutup pelayat yang lain. Mengiring jenazah dengan mendahului mayit lebih utama daripada berada di belakang janazah. Hal ini berlaku baik bagi pejalan kaki maupun berkendara. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Syihab :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبَا بَكْرٍ وعُمَرَ، كَانُوا يَمْشُونَ أَمَامَ الْجَنَازَةِ. وَالْخُلَفَاءُ هَلُمَّ جَرّاً وَعَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar berjalan di depan jenazah. Para khalifah setelahnya berjalan seperti demikian, serta Abdullah bin Umar juga sama” (Al-Muwatha’: 256)
Dalam mengiring jenazah, sebaiknya tidak menggunakan kendaraan kecuali ada uzur seperti sakit atau tidak mampu. Di sebagian tempat, terutama di perkotaan, jarak antara makam dan rumah duka seringkali sangat jauh sehingga pengiring kesulitan atau kecapekan jika dipaksa berjalan kaki. Bila yang terjadi seperti ini, anjuran untuk berjalan kaki menjadi gugur. Munurut Syekh Ibrahim as-Syirazi, kalau tidak ada alasan mendesak, misalnya sang pelayat dalam keadaan sehat atau tak ada kendala jarak, kemudian ia mengiring jenazah dengan berkendara, maka hukumnya makruh.
Dari perincian di atas, Syekh Qalyubi dan Umairah menyimpulkan sebagai berikut :
وَالْحَاصِلُ الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ: إنَّ الْمَشْيَ أَفْضَلُ وَلَوْ خَلْفَهَا، أَوْ بَعِيدًا مِنْ الرُّكُوبِ وَلَوْ أَمَامَهَا، أَوْ قَرِيبًا وَأَنَّهُ أَمَامَهَا أَفْضَلُ مِنْهُ خَلْفَهَا، وَلَوْ مَشَى بِالْقُرْبِ
Artinya: “Kesimpulannya, sebaiknya redaksi yang ditampilkan adalah mengiring jenazah dengan berjalan itu lebih utama walaupun di belakangnya atau bahkan sangat jauh jarak antara pelayat dan jenazah dibanding dengan naik kendaraan walaupun posisinya di depan mayit dengan jarak dekat sekalipun. Mengiring jenazah di depannya lebih utama daripada di belakangnya walaupun jaraknya sangat dekat dengan jenazah. (Qalyubi dan Umairah, Hasyiyata Qalyubi wa Umairah, [Beirut: Darul Fikr, 1995], juz 1, hlm. 385)
Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar